RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan :
SMA Negeri 22 Surabaya
Mata Pelajaran :
SEJARAH
Kelas / Semester :
XI / 1
Materi Pokok : Kerajaan-Kerajaan Besar Indonesia pada Masa
Kekuasaan Hindu-Buddha dan Islam
Sub Materi Pokok : 1. Kerajaan
Sriwijaya
2. Kerajaan Majapahit
3. Kerajaan Demak
4. Kerajaan Mataram
Alokasi Waktu : 4 X 135 Menit / 4 mg x 3 jp
A. KOMPETENSI
INTI
1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Mengembangkan
perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan,
gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami dan
menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah,
menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B. KOMPETENSI
DASAR DAN INDIKATOR
Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis
sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Indonesia pada
masa kerajaan-kerajaan besar Hindu-Buddha untuk menentukan faktor yang
berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu dan masa kini
Indikator
3.1.1. Siswa dapat
menjelaskan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Sriwijaya.
3.1.2. Siswa dapat
menjelaskan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Majapahit.
Kompetensi Dasar
3.2 Menganalisis
sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Indonesia pada
masa kerajaan-kerajaan besar Islam untuk menentukan faktor yang berpengaruh
pada kehidupan masyarakat Indonesia pada
masa itu dan masa kini.
Indikator
3.2.1. Siswa dapat menjelaskan
sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa kerajaan Demak.
3.2.1. Siswa dapat
menjelaskan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Mataram
Kompetensi Dasar
4.1 Menyajikan
warisan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Indonesia pada masa kerajaan-kerajaan besar Hindu-Buddha yang
berpengaruh pada kehidupan masyarakat
Indonesia masa kini, dalam bentuk tulisan dan media lain.
Indikator
4.1.1 Siswa dapat
menyajikan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Sriwijaya
4.1.2 Siswa dapat
menyajikan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Majapahit
Kompetensi Dasar
4.2 Menyajikan hasil identifikasi warisan sistem
pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Indonesia pada
masa kerajaan-kerajaan besar Islam di
Indonesia yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini, dalam
bentuk tulisan dan media lain.
Indikator
4.2.1 Siswa dapat
menyajikan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Demak
4.2.2 Siswa dapat
menyajikan sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan pada masa
kerajaan Mataram
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan
membaca buku paket, siswa dapat menjelaskan sistem pemerintahan kerajaan
Sriwijaya.
2. Dengan
melakukan presentasi di depan kelas siswa dapat menjelaskan kehidupan sosial
pada zaman kerajaan Sriwijaya.
3. Dengan
melakukan melakukan diskusi siswa dapat menjelaskan kehidupan ekonomi pada
zaman kerajaan Sriwijaya
4. Dengan
melakukan tanya jawab siswa dapat menjelaskan kehidupan kebudayaan pada zaman
kerajaan Sriwijaya
5. Dengan
membaca buku paket, siswa dapat menjelaskan sistem pemerintahan kerajaan
Majapahit.
6. Dengan
melakukan presentasi di depan kelas siswa dapat menjelaskan kehidupan sosial
pada zaman kerajaan Majapahit.
7. Dengan
melakukan melakukan diskusi siswa dapat menjelaskan kehidupan ekonomi pada
zaman kerajaan Majapahit.
8. Dengan
melakukan tanya jawab siswa dapat menjelaskan kehidupan kebudayaan pada zaman
kerajaan Majapahit.
9. Dengan
membaca buku paket, siswa dapat menjelaskan sistem pemerintahan kerajaan Demak.
10. Dengan
melakukan presentasi di depan kelas siswa dapat menjelaskan kehidupan sosial pada
zaman kerajaan Demak.
11. Dengan
melakukan melakukan diskusi siswa dapat menjelaskan kehidupan ekonomi pada
zaman kerajaan Demak.
12. Dengan
melakukan tanya jawab siswa dapat menjelaskan kehidupan kebudayaan pada zaman
kerajaan Demak.
13. Dengan
membaca buku paket, siswa dapat menjelaskan sistem pemerintahan kerajaan
Mataram.
14. Dengan
melakukan presentasi di depan kelas siswa dapat menjelaskan kehidupan sosial
pada zaman kerajaan Mataram.
15. Dengan
melakukan melakukan diskusi siswa dapat menjelaskan kehidupan ekonomi pada
zaman kerajaan Mataram.
16. Dengan
melakukan tanya jawab siswa dapat menjelaskan kehidupan kebudayaan pada zaman
kerajaan Mataram.
D. MATERI PEMBELAJARAN
KERAJAAN
SRIWIJAYA
A. Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya
Raja-raja yang berhasil diketahui pernah memerintah Kerajaan
Sriwijaya diantaranya sebagai berikut
Raja
Dapunta Hyang
Berita mengenai raja ini diketahui melalui Prasasti Kedukan
Bukit (683 M). Pada masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah berhasil
memeperluas wilayak kekuasaannya sampai ke wilayah Jambi, yaitu dengan
menduduki daerah Minangatamwan.
Daerah ini memiliki arti yang sangat strategis dalam bidang
perekonomian, karena daerah ini dekat dengan jalur perhubungan pelayaran
perdagangan di Selat Malaka. Sejak awal pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang
telah mencita-citakan agar Kerajaan Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim.
Raja
Balaputra Dewa
Pada awalnya, Raja Balaputra Dewa adalah raja dari kerajaan
Syailendra (di Jawa Tengah). Ketika terjadi perang saudara di Kerajaan
Syailendra antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu
oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan.
Akibat kekalahan itu, Raja Balaputra Dewa lari ke Sriwijaya. Di Kerajaan
Sriwijaya berkuasa Raja Dharma Setru (kakek dari Raja Balaputra Dewa) yang
tidak memiliki keturunan, sehingga kedatangan Raja Balaputra Dewa di Kerajaan
Sriwijaya disambut baik. Kemudian, ia diangkat menjadi raja.
Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya
berkembang semakin pesat. Raja Balaputra Dewa meningkatkan kegiatan pelayaran
dan perdagangan rakyat Sriwijaya. Di samping itu, Raja Balaputra Dewa menjalin
hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang berada di luar wilayah Indonesia, terutama
dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti Kerajaan Benggala
(Nalanda) maupun Kerajaan Chola. Bahkan pada masa pemerintahannya, kerajaan
Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Budha di Asia
Tenggara.
Raja
Sanggrama Wijayattunggawarman
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mendapat ancaman
dari Kerajaan Chola. Di bawah pemerintahan Raja Rajendra Chola, Kerajaan Chola
melakukan serangan dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Raja Sriwijaya yang
bernama Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan. Namun pada masa
pemerintahan Raja Kulotungga I di Kerajaan Cho, Raja Sanggrama
Wijayattunggawarman dibebaskan kembali.
Runtuhnya
Kerajaan Sriwijaya
Pada abad ke-11 Raja Rajendra Cholamandala dari India Selatan
melakukan dua kali penyerangan ke Kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut disebabkan
adanya persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan. pada penyerangan yang
kedua, Kerajaan Chola berhasil menawan Raja Sri Sanggrama Wijayatunggawarman
serta berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya.
Sekalipun Kerajaan ini masih berdiri, namun kemashurannya
sudah pudar. Bersamaan dengan hal itu Pada abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya
mengalami kemunduran yang luar biasa. Kerajaan besar di sebelah utara, seperti
Siam melakukan perluasan wilayah kekuasaannya ke wilayah selatan. Kerajaan Siam
( Kerajaan Kediri ) berhasil menguasai daerah Semanjung Malaka, termasuk Tanah
Genting Kra. Akibat dari perluasan Kerajaan Siam tersebut, kegiatan pelayaran
perdagangan Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan
kecil dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, pada abad ke-13
Kerajaan Sriwijaya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit. Kerajaan Sriwijaya
benar-benar tenggelam, hilang dan lenyap tanpa jejaknya. Kira-kira pada 1377
habislah sejarah dari Kerajaan Sriwijaya yang semula
B. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya
Dilihat dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya
mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran
perdagangan antara India dan Cina. Di samping itu, letak Kerajaan Sriwijaya
dekat dengan Selat Malak yang merupakan urat nadi perhubungan bagi
daerah-daerah di Asia Tenggara. Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal
utama bagi masyarakatnya untuk terjun dalam aktivitas pelayaran dan
perdagangan.
C. Kehidupan Sosial dan Budaya
Sriwijaya merupakan kerajaan Budha terbesar. Hal itu membuat
It-tsing, seorang pendeta dari Cina pernah menetap selama 6 tahun di Sriwijaya
untuk memperdalam agama Buddha. Salah satu karya yang dihasilkannya, yaitu Ta
Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan yang selesai ditulis pada tahun 692 M.
Selain itu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di
daerah Palembang, Jambi, Riau, Malaysia, dan Thailand. Hal ini disebabkan karena
Sriwijaya merupakan Kerajaan Maritim yang selalu berpindah-pindah dari satu
tempat ke tempat yang lain dalam kurun waktu yang lama.
Prasasti dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu
Prasasti Boom Baru (abad ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti
Talangtuo (684 M), Prasasti Telaga Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka,
Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Sedangkan peninggalan sejarah
Kerajaan Sriwijaya lainnya ditemukan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, yaitu
Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi
Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono dan Kolam Telagorajo,
Situs Muarojambi. Selain itu Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Lampung
terdapat Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung). di Riau, Candi
Muara Takus yang berbentuk stupa Budha.
KERAJAAN MAJAPAHIT
A. Sistem Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Di bawah pimpinan Hayam Wuruk yang didampingi Mahapatih Gajah
Mada, Majapahit meluaskan wilayah kekuasaannya ke luar Jawa. Sedikit demi
sedikit, Majapahit mengusai seluruh wilayah nusantara. Seperti dipaparkan dalam
kitab Negarakertagama, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan
Majapahit meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku,
dan Papua. Bahkan beberapa daerah di Asia Tenggara, seperti Semenanjung Melayu
dan Filipina bagian Selatan.
Sebagai kerajaan yang besar, Majapahit memiliki sistem
ketatanegaraan yang teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat
dunia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa
di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.
Dalam menjalankan tugasnya raja dibantu oleh sejumlah pejabat
birokrasi. Para putra dan kerabat dekat raja diberikan keduduk an tinggi dalam
jabatan birokrasi kerajaan. Sebelum menjadi raja, biasanya para putra mahkota
diberi kedudukan sebagai raja muda (Bhatara
Saptaprabhu) yaitu suatu lembaga Dewan Pertimbangan Kerajaan. Dewan ini
bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada raja dalam menjalankan
pemerintahannya. Anggota Bhatara Saptaprabhu terdiri dari sanak-saudara raja.
Dewan ini pertama kali diketahui melalui Prasasti
Singasari (1351) yang dikeluarkan Mahapatih Gajah Mada. Di samping prasasti
itu, juga diketahui dari Kidung
Sundayana yang menyebut Saptaprabhu
dan kitab Negara Kertagama yang
menyebut Pohon Narendra.
B. Kehidupan Sosial Kerajaan Majapahit
Berdasarkan kitab Negarakertagama tersebut dapat diketahui,
bahwa struktur masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat
yang yang disebut kasta. Ada empat kasta yang juga dikenal dengan istilah catur warna dalam kehidupan masyarakat
tersebut adalah brahmana, ksatria,
waisya, dan sudra. Ada pula
golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu candala, mleccha, dan tuccha,
yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit. Walaupun
demikian aturan kasta pada masyarakat Majapahit tidak ketat seperti yang
terdapat di India, sehingga kasta-kasta tersebut lebih bersifat teoritis dalam
literatur istana.
Kaum Brahmana (kaum pendeta) mempunyai pengaruh di dalam
pemerintahan, kususnya dalam bidang keagamaan. Ada dua pimpinan keagamaan pada
kerajaan Majapahit, yaitu yaitu pimpinan agama Siwa yang disebut dengan Saiwadharmadhyaksa dan pimpinan agama
Buddha yang disebut Buddhadarmadyaksa.
Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan)
dan tempat pemukiman empu (kalagyan).
Sedangkan Buddhadyaksa mengepalai tempat sembahyang (kuti) dan bihara (wihara).
Menteri berhaji mengepalai para ulama (karesyan)
dan para pertapa (tapaswi). Semua
rohaniawan menghambakan hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji. Para rohaniawan biasanya
tinggal di sekitar bangunan agama, yaitu: mandala,
dharma, sima, dan wihara.
C. Kehidupan Sosial-Ekonomi Kerajaan Majapahit
Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara
maritim. Kedudukan sebagai negara agraris tampak dari letaknya di pedalaman dan
dekat aliran sungai. Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari kesanggupan
angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh Majapahit di seluruh
nusantara. Dengan demikian, kehidupan ekonomi masyarakat Majapahit
menitikberatkan pada bidang pertanian dan pelayaran.
Panen padi terjadi dua kali dalam setahun menghasilkan butir
berasnya amat halus. Selain itu terdapat pula hasil pertanian berupa wijen
putih, kacang hijau, dan rempah-rempah. Buah-buahan banyak jenisnya, antara
lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, manggis, langsa, dan semangka.
Sayur mayur berlimpah baik jumlah maupun jenisnya. Jenis binatang juga banyak,
antara lain burung beo, ayam mutiara (kalkun), burung nilam, merak, pipit,
kelelawar dan hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, babi, ayam dan bebek,
serta hewan langka monyet putih dan rusa putih. Untuk membantu pengairan
pertanian yang teratur, pemerintah Majapahit membangun dua buah bendungan,
yaitu Bendungan Jiwu untuk
persawahan dan Bendungan Trailokyapur
untuk mengairi daerah hilir.
Dalam bidang perdagangan banyak pedagang Majapahit berperan
sebagai pedagang perantara. Menurut catatan Wang Ta-yuan seorang pedagang dari Cina, komoditas ekspor Jawa pada
saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Sedangkan komoditas
impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari
besi. Daerah-daerah pelabuhan seperti Canggu, Surabaya, Gresik, Sedayu, dan
Tuban menjadi pusat perdagangan karena mengangkut barang dagangan berupa hasil
bumi dari daerah pedalaman.
E. Kehidupan Keagamaan Kerajaan Majapahit
Pada masa Kerajaan Majapahit berkembang agama Hindu Siwa dan
agama Budha. Kedua umat beragama itu memiliki toleransi yang tinggi, sehingga
tercipta kerukunan umat beragama yang baik. Raja Hayam Wuruk menganut gama
Siwa, sedangkan Mahapatih Gajah Mada beragama Buddha. Namun, mereka dapat bekerja
sama dengan baik Bahkan dalam Negarakretagama pada pupuh ke LXXXI dijelaskan
bahwa Raja Hayam Wuruk berusaha
keras untuk menyatukan tiga aliran agama di wilayah Majapahit yang disebut
dengan Tripaksa (tiga sayap) yaitu
agama Siwa, Budha dan Brahma, pupuh ini juga menyebutkan bahwa para pendetanya
yang disebut caturdwija tunduk
rungkup kepada ajaran tutur. Sedangkan Empu Tantular menyatakan bahwa kedua
agama itu merupakan satu kesatuan yang disebut Syiwa–Buddha. Hal itu ditegaskan
lagi dalam Kitab Sutasoma dengan
kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana
Dharmma Mangrwa. Artinya, walaupun beraneka ragam, tetap dalam satu
kesatuan, tidak ada agama yang mendua.
Urusan keagamaan diserahkan kepada pejabat tinggi yang disebut
Dharmmaddhyaksa. Jabatan itu dibagi dua,
yaitu Dharmmaddhyaksa Ring Kasaiwan
untuk urusan agama Syiwa dan Dharmmaddhyaksa
Ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha. Kedua pejabat itu dibantu oleh
sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmmaupatti.
Pejabat itu, pada zaman Hayam Wuruk yang terkenal ada tujuh orang yang disebut sang upatti sapta. Di samping sebagai
pejabat keagamaan, para upatti juga dikenal sebagai kelompok cendekiawan atau
pujangga. Misalnya, Empu Prapanca
adalah seorang Dharmmaddhyaksa dan juga seorang pujangga besar dengan kitabnya Negarakertagama.
KERAJAAN DEMAK
Kerajaan Demak yang secara geografis terletak di Jawa Tengah
dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai yang dikelilingi
oleh daerah rawa yang luas dikelilingi peraiaran laut Muria.Bintoro yang
menjadi pusat kerajaan Demak yang terletak antara bergola dan jepara, dimana
bergola adalah sebuah pelabuhan yang penting pada masa Kerajaan Mataram (
Wangsa Syailendra ), sedangkan Jepara akhirnya berkembang menjadi pelabuhan
yang penting bagi kerajaan Demak.
Kehidupan politik lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk
perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian
barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yag sudah hancur,
maka Demak berkembang menjadi kerajaan besar di pulau Jawa, dan memiliki
peranan penting dalam rangka penyebaran agama islam, khususnya di pulau Jawa,
karena Demak berhasil menggantikan peran Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan
Portugis 1511
Kehidupan
Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Kehidupan Ekonomi kerajaan Demak, karena Demak terletak di
wilayah yang sangat strategis yaitu di jalur perdagangan nusantara memungkinkan
Demak berkembang menjadi kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangannya, Demak
berperan sebagai penghubung daerah penghasil rempah-rempah di wilayah
Indonesia bagian timur dan penghasil
rempah-rempah di Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan di Demak
semakin berkembang. Dan hal inI juga didukung oleh pengusaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan
di daerah pesisir pantai pulau Jawa. Sebagai kerajaan islam yang memiliki
wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga
beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan
demikian, kegiatan perdagangannya di tunjang oleh hasil pertanian, yang
mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan dibidang ekonomi.
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya
islam, karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam pertama di
pulau Jawa. Sebagai pusat penyebaran Islam, Demak menjadi tempat berkumpulnya
para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang.
Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan
kerajaan Demak, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kudus yang memberi nasihat
kepada Raden Patah untuk membuat siasat
menghancurkan kekuatan potugis dan membuat pertahanan yang kuat di
Nusantara. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/ bangsawan,
para wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui
pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun di Pondok Pesantren,
sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiah ( Persaudaraan di antara
orang- orang Islam )
Demikian pula di bidang budaya, banyak hal yang menarik yang
merupakan peninggalan dari kerajaan Demak.Salah satunya adalah Masjid Demak,
dimana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan- pecahan kayu yang
disebut dengan soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga.
Di serambi depan Masjid ( pendopo ) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-
dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad SAW) yang sampai sekarang masih
berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Hal tersebut menunjukan adanya
akulturasi kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam.
KERAJAAN MATARAM
A. Sistem Politik dan Pemerintahan
Di bawah pemerintahan Sultan Agung Mataram mencapai puncak
kejayaannya. Sultan Agung memindahkan pusat pemerintahan dari Kotagede ke Plered.
Sultan Agung bercita-cita untuk mempersatukan seluruh Pulau Jawa dibawah
kekuasaan Mataram. Oleh karena itulah Mataram terus menerus terlibat dalam
perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan
VOC yang juga sedang berkeingan untuk menguasai Pulau Jawa.
Pada tahun 1614, Sultan Agung menaklukkan Kediri, Pasuruan,
Lumajang, dan Malang. Pada tahun 1615, tentara Mataram lebih dikerahkan ke
daerah Wirasaba, sebuah tempat yang sangat strategis untuk menaklukkan Jawa
Timur. Daerah ini pun berhasil diduduki. pada tahun 1616. Pada tahun yang sama
Lasem menyerah. Tahun 1619, Tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Pada tahun
1622 Sultan Agung memberanikan diri menyeberangi Laut Jawa untuk menundukkan
Sukadana di Kalimantan yang menjadi sekutu Surabaya. Pada tahun 1624 serangan
Mataram ditujukan ke Madura. Pamekasan, Sampang dan Sumenep dapat ditaklukkan.
Kemudian Adipati Sampang diangkat menjadi Adipati di Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I. Dan akhirnya,
Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625. Untuk menaklukkan Cirebon, Sultan
Agung melakukan pernikahan politik dengan putri Cirebon.
Pada tahun, 1627, hampir seluruh Pulau Jawa telah berhasil
dipersatukan di bawah kekuasaan Mataram, kecuali kesultanan Banten dan Batavia
yang dikuasai VOC. Sebagai pewaris kerajaan Demak, Sultan Agung merasa berhak
pula terhadap kerajaan Banten. Akan tetapi, antara Mataram dan Banten terdapat Batavia,
markas VOC, sebagai penghalang.
Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri Sultan Agung
untuk menghadapi VOC di Batavia dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen. Maka,
pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Baurekso dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk
mengempung Batavia.
Akan tetapi, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini
gagal, bahkan Tumenggung Baureksa gugur. Belajar dari kegagalan tersebut
Mataram menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih
matang. Maka pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Pada
penyerangan kedua ini, pasukan Mataram dipimpin oleh Ki Ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, Ki Ageng Puger. Penyerbuan
dilancarkan terhadap Benteng Hollandia,
Bommel, dan Weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan. Setelah
kekalahan itu serangan Mataram ditujukan ke Blambangan sehingga dapat
dipersatukan pada tahun 1639.
Sultan Agung wafat pada tahun 1645. la digantikan putranya
yang bergelar Amangkurat I (1645 -1677). Pada masa pemerintahannya,
Belanda mulai masuk ke daerah Mataram. Bahkan Amangkurat I menjalin hubungan
baik dengan Belanda. Selain itu sikap Amangkurat I yang sewenang-wenang
menimbulkan pemberontakan-pemberontakan. Pemberontakan yang paling berbahaya
adalah pemberontakan Trunojoyo dari
Madura. Dalam pertempuran itu Amangkurat I terluka dan dilarikan ke Tegalwangi,
hingga meninggal.
B. Bidang ekonomi
Kerajaan Mataram adalah kelanjutan dari Kerajaan Demak dan
Pajang. Kerajaan ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris.
Posisi ibukota Mataram di Kota Gede yang berada di pedalaman menyebabkan
Mataram sangat tergantung kepada hasil pertanian. Dengan mengandalkan dari
pertanian, Mataram melakukan penaklukan ke beberapa kerajaan-kerajaan di Jawa
Timur dan Jawa Barat.
Sealin itu Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan
mengembangkan daerah persawahan dan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa
sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi)
dari daerah kering ke daerah yang subur dengan irigasi yang baik. Komoditi
pertanian yang dihasilkan oleh Kerajaan Mataram Islam, diantaranya, beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa
dan palawija.
C. Bidang Sosial Kemasyarakatan
Tatanan kehidupan masyarakat pada kerajaan Mataram didasarkan
pada hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama. Dalam pemerintahan
Kerajaan Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Untuk
melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga
istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh
kepala desa (bekel) dan dikerjakan
oleh petani penggarap dengan membayar pajak atau sewa tanah.
Kehidupan masyarakat yang agraris membentuk tatanan
masyarakat sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah
kerajaan beserta isinya. Sedangkan bangsawan, priyayi dan kerabat kerajaan yang
memerintah suatu wilayah, mendapatkan lahan tanah garapan yang luas. Sedangkan
rakyat bertugas untuk mengurus tanah tersebut. Dengan adanya sistem feodalisme
tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa
terhadap tanah-tanah yang dikuasainya.
D. Bidang Kebudayaan
Sultan Agung adalah raja Mataram yang berusaha membuat
suasana harmonis antara kebudayaan Jawa dengan nilai-nilai Islam. Dalam proses perkembangannya,
masyarakat Mataram sebelumnya telah mengenal tradisi-tradisi yang bersumber
dari kebudayaan asli Jawa dan kebudayaan Hindu dan Budha yang berasal dari
India. Masyarakat Mataram telah memilih secara selektif pengaruh kebudayaan
dari luar tersebut dan melakukan perpaduan budaya dengan kebudayaan Islam.
Berbagai aspek seni budaya berkembang dengan pesat baik seni
tari, seni pahat, seni suara dan seni sastra. Hal ini terlihat dari kreasi para
seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah.
Misalnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan
dibuat pada masa Sultan Agung.
E. METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan : Keterampilan
Proses
Model : Siklus
Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi
Metode : 1. Ceramah Bervariasi
2. Tanya
Jawab
3. Diskusi
4. Penugasan
5. Presentasi
/ Pelaporan
F. MEDIA, ALAT, DAN
SUMBER PEMBELAJARAN
1. Media :
a. Laptop, CPU
b. LCD Projector
c. Film / Video
d. Gambar
c. Tabel / Diagram
2. Sumber Belajar :
a.
M. Habib Mustopo, 2014, Sejarah Indonesia, Program Peminatan,
Jilid 2, Kelas XI, Yudhistira : Jakarta,
b. Abdul Syukur, Bahan
Ajar Workshop Kesejarahan Guru Sejarah Mata Pelajaran Sejarah (Peminatan
Ilmu-Ilmu Sosia) Sekolah Menengah Atas Kelas XI, Direktorat Sejarah dan
Nilai Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2014
c.
Sejarah
Nasional Indonesia Jilid II, Perkembangan Kerajaan-kerajaan Besar Hindhu-Budha
di Nusantara, 2014
G. KEGIATAN
PEMBELAJARAN
(Pertemuan ke 1)
1. Pendahuluan ( 10 menit )
a.
Motivasi dan Apersepsi
Guru
menayangkan gambar-gambar dan video yang berhubungan kerajaan Sriwijaya,
seperti tentang Candi Muara Takus, Peta Kerajaan Sriwijaya, dan
Prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya. Kemudian memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya dan memberikan komentar.
b.
Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran yang
hendak dilakukan.
2. Kegiatan Inti ( 110 menit )
a. Mengamati
1. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membaca buku paket tentang Kerajaan Sriwijaya.
2. Guru memberikan
kesempatan siswa untuk menyaksikan film dokumenter tentang Kerajaan Sriwijaya.
b. Menanyakan (merumuskan masalah/hipotesisi)
1. Guru memberikan
kesempatan dan memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk mengajukan
pertanyaan terkait dengan Kerajaan Sriwijaya,
2. Siswa
mengajukan pertanyaan sehubungan dengan Kerajaan Sriiwijaya, seperti,
a. Apakah hubungan
antara runtuhnya Kerajaan Funan dengan berdirinya Kerajaan Sriwijaya ?
b. Mengapa
Sriwijaya muncul sebagai kerajaan Maritim yang kuat ?
c. Mengapa
Sriwijaya mendapatkan banyak serangan dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya ?
c. Mengumpulkan data/eksperimen/observasi/mengamati
1. Siswa mengumpulkan
data untuk menemukan jawaban dengan membaca buku paket dan sumber-sumber
lainnya.
2. Siswa
memberikan tanda pada kata-kata kunci (key word) pada buku teks dan membuat
ikhtisar.
d. Membuat Asosiasi (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi)
1. Siswa
merumuskan keterkaitan antara keadaan geografis dengan perkembangan
perekonomian kerajaan Sriwijaya sebagai negara maritim.
2. Siswa menemukan
contoh-contoh keunikan unsur-unsur budaya dari zaman kerajaan Sriwijaya.
3. Siswa merumuskan
keterkaitan antara sejarah Kerajaan Sriwijaya dengan fakta-fakta masa kini.
e. Mengkomunikasikan
1. Siswa menyusun
peta konsep berdasarkan kata kunci yang telah ditemukan.
2. Siswa
mempresentasikan gambar-gambar yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya.
3. Dengan
bimbingan guru, siswa melakukan diskusi tentang perkembangan Sriwijaya sebagai
pusat agama Budha di Asia Tenggara.
4. Siswa mempresentasikan
hasil karya di depan kelas.
3. Kegiatan Penutup ( 15 menit )
a. Bersama siswa membuat
kesimpulan hasil pembelajaran.
b. Memberikan
apresiasi terhadap semua siswa yang terlibat aktif dan kondusif selama kegiatan
pembelajaran berlangsung.
c. Melakukan
refleksi terhadap seluruh kegiatan belajar mengajar.
d. Mengajak siswa
untuk bersama-sama mengucapkan rasa syukur
(Pertemuan ke 2)
1. Pendahuluan ( 10 menit )
a.
Motivasi dan Apersepsi
Guru menayangkan
gambar-gambar dan video yang berhubungan kerajaan Majapahit, seperti tentang
peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit, rute perjalanan Hayam Wuruk, dan
Peta Kekuasaan Majapahit, Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya dan memberikan komentar.
b.
Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran yang
hendak dilakukan.
2. Kegiatan Inti ( 110 menit )
a. Mengamati
1. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membaca buku paket tentang Kerajaan Majapahit.
2. Guru memberikan
kesempatan siswa untuk menyaksikan film dokumenter tentang Kerajaan Majapahit.
b. Menanyakan (merumuskan masalah/hipotesisi)
1. Guru memberikan
kesempatan dan memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk mengajukan
pertanyaan terkait dengan Kerajaan Majapahit,
2. Siswa
mengajukan pertanyaan sehubungan dengan Kerajaan Majapahit, seperti,
a. Apakah hubungan
antara runtuhnya Kerajaan Singasari dengan berdirinya Kerajaan Majapahit ?
b. Mengapa terjadi
banyak pemberontakan pada masa pemerintahan Jayanegara ?
c. Apa yang
dimaksud dengan Mitrekasatata ?
c. Mengumpulkan data/eksperimen/observasi/mengamati
1. Siswa
mengumpulkan data untuk menemukan jawaban dengan membaca buku paket dan
sumber-sumber lainnya.
2. Siswa
memberikan tanda pada kata-kata kunci (key word) pada buku teks dan membuat
ikhtisar.
d. Membuat Asosiasi (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi)
1. Siswa
merumuskan keterkaitan antara runtuhnya kerajaan Singasari dengan berdirnya
Kerajaan Majapahit.
2. Siswa menemukan
contoh-contoh unsur-unsur budaya Indonesia asli pada peninggalan-peninggalan
kerajaan Majapahit.
3. Siswa
merumuskan keterkaitan antara sejarah kerajaan Majapahit dengan fakta-fakta
masa kini.
e. Mengkomunikasikan
1. Siswa menyusun
peta konsep berdasarkan kata kunci yang telah ditemukan.
2. Siswa
mempresentasikan gambar-gambar yang berhubungan dengan Kerajaan Majapahit.
3. Dengan
bimbingan guru, siswa melakukan diskusi tentang peninggalan-peninggalan
kerajaan Majapahit..
4. Siswa
mempresentasikan hasil karya di depan kelas.
3. Kegiatan Penutup ( 15 menit )
a. Bersama siswa
membuat kesimpulan hasil pembelajaran.
b. Memberikan
apresiasi terhadap semua siswa yang terlibat aktif dan kondusif selama kegiatan
pembelajaran berlangsung.
c. Melakukan
refleksi terhadap seluruh kegiatan belajar mengajar.
d. Mengajak siswa
untuk bersama-sama mengucapkan rasa syukur
(Pertemuan ke 3)
1. Pendahuluan ( 10 menit )
a.
Motivasi dan Apersepsi
Guru menayangkan
gambar-gambar dan video yang berhubungan kerajaan Demak, seperti tentang
peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak, silsilah raja-raja Demak dan Peta
Kekuasaan Demak, Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan
memberikan komentar.
b.
Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran yang
hendak dilakukan.
2. Kegiatan Inti ( 110 menit )
a. Mengamati
1. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membaca buku paket tentang Kerajaan Demak.
2. Guru memberikan
kesempatan siswa untuk menyaksikan film dokumenter tentang Kerajaan Demak.
b. Menanyakan (merumuskan masalah/hipotesisi)
1. Guru memberikan
kesempatan dan memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk mengajukan
pertanyaan terkait dengan Kerajaan Demak,
2. Siswa
mengajukan pertanyaan sehubungan dengan Kerajaan Demak, seperti,
a. Apakah hubungan
antara runtuhnya Kerajaan Majapahit dengan berdirinya Kerajaan Demak ?
b. Mengapa terjadi
perang saudara pada kerajaan Demak ?
c. Mengapa
peninggalan kerajaan Demak masih menyerupai peninggalan kerajaan Hindu-Budha ?
c. Mengumpulkan data/eksperimen/observasi/mengamati
1. Siswa
mengumpulkan data untuk menemukan jawaban dengan membaca buku paket dan
sumber-sumber lainnya.
2. Siswa
memberikan tanda pada kata-kata kunci (key word) pada buku teks dan membuat
ikhtisar.
d. Membuat Asosiasi (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi)
1. Siswa
merumuskan keterkaitan antara runtuhnya kerajaan Majapahit dengan berdirnya
Kerajaan Islam Demak.
2. Siswa menemukan
contoh-contoh unsur-unsur budaya Indonesia Hindu-Budha pada
peninggalan-peninggalan kerajaan Demak.
3. Siswa
merumuskan keterkaitan antara sejarah kerajaan Demak dengan fakta-fakta masa
kini.
e. Mengkomunikasikan
1. Siswa menyusun
peta konsep berdasarkan kata kunci yang telah ditemukan.
2. Siswa
mempresentasikan gambar-gambar yang berhubungan dengan Kerajaan Demak.
3. Dengan
bimbingan guru, siswa melakukan diskusi tentang peninggalan-peninggalan
kerajaan Demak.
4. Siswa
mempresentasikan hasil karya di depan kelas.
3. Kegiatan Penutup ( 15 menit )
a. Bersama siswa
membuat kesimpulan hasil pembelajaran.
b. Memberikan
apresiasi terhadap semua siswa yang terlibat aktif dan kondusif selama kegiatan
pembelajaran berlangsung.
c. Melakukan
refleksi terhadap seluruh kegiatan belajar mengajar.
d. Mengajak siswa
untuk bersama-sama mengucapkan rasa syukur
(Pertemuan ke 4)
1. Pendahuluan ( 10 menit )
a.
Motivasi dan Apersepsi
Guru menayangkan
gambar-gambar dan video yang berhubungan kerajaan Mataram Islam, seperti
tentang peninggalan-peninggalan Kerajaan Mataram, gambar raja-raja Mataram dan peta
kekuasaan Mataram, Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
dan memberikan komentar.
b.
Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran yang
hendak dilakukan.
2. Kegiatan Inti ( 110 menit )
a. Mengamati
1. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membaca buku paket tentang Kerajaan Mataram Islam.
2. Guru memberikan
kesempatan siswa untuk menyaksikan film dokumenter tentang Kerajaan Mataram
Islam.
b. Menanyakan (merumuskan masalah/hipotesisi)
1. Guru memberikan
kesempatan dan memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk mengajukan
pertanyaan terkait dengan Kerajaan Mataram Islam,
2. Siswa
mengajukan pertanyaan sehubungan dengan Kerajaan Mataram Islam, seperti,
a. Apakah hubungan
antara runtuhnya Kerajaan Demak dengan berdirinya Kerajaan Pajang dan Mataram ?
b. Mengapa terjadi
perang antara Mataram Islam dengan VOC di Batavia ?
c. Mengapa
peninggalan terjadi akulturasi budaya pada peninggalan-peninggalan kerajaan Mataram
Islam ?
c. Mengumpulkan data/eksperimen/observasi/mengamati
1. Siswa
mengumpulkan data untuk menemukan jawaban dengan membaca buku paket dan
sumber-sumber lainnya.
2. Siswa
memberikan tanda pada kata-kata kunci (key word) pada buku teks dan membuat
ikhtisar.
d. Membuat Asosiasi (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi)
1. Siswa
merumuskan keterkaitan antara runtuhnya kerajaan Mataram Islam dengan berdirinya
Kerajaan Pajang dan Mataram Islam.
2. Siswa menemukan
contoh-contoh unsur-unsur budaya Indonesia Hindu-Budha pada
peninggalan-peninggalan kerajaan Mataram Islam.
3. Siswa
merumuskan keterkaitan antara sejarah kerajaan Mataram Islam dengan fakta-fakta
masa kini.
e. Mengkomunikasikan
1. Siswa menyusun
peta konsep berdasarkan kata kunci yang telah ditemukan.
2. Siswa
mempresentasikan gambar-gambar yang berhubungan dengan Kerajaan Mataram Islam.
3. Dengan
bimbingan guru, siswa melakukan diskusi tentang peninggalan-peninggalan
kerajaan Mataram Islam.
4. Siswa
mempresentasikan hasil karya di depan kelas.
3. Kegiatan Penutup ( 15 menit )
a. Bersama siswa
membuat kesimpulan hasil pembelajaran.
b. Memberikan
apresiasi terhadap semua siswa yang terlibat aktif dan kondusif selama kegiatan
pembelajaran berlangsung.
c. Melakukan
refleksi terhadap seluruh kegiatan belajar mengajar.
d. Mengajak siswa
untuk bersama-sama mengucapkan rasa syukur
H. PENILAIAN
1. Teknik dan Bentuk Instrumen
|
Teknik
|
Bentuk Instrumen
|
|
1. Pengamatan Sikap
|
1. Lembar
Pengamatan Sikap dan Rubrik
|
|
2. Portofolio
|
2. Panduan Penyusunan Portofolio
|
|
3. Tes Tertulis
|
3. Tes Uraian dan Pilihan Ganda
|
2. Lembar Pengamatan Sikap
|
No.
|
Aspek yang Dinilai
|
3
|
2
|
1
|
Keterangan
|
|
1
|
Mengagumi
mata sebagai alat indera ciptaan Tuhan
|
|
|
|
|
|
2
|
Memiliki rasa ingin tahu (curiosity)
|
|
|
|
|
|
3
|
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan
bekerja baik secara individu maupun berkelompok
|
|
|
|
|
3. Lembar Penilaian Sikap
|
No
|
Aspek yang Dinilai
|
Rubrik
|
|
1
|
Mengagumi terbentuknya kehidupan di muka bumi sebagai
ciptaan Tuhan
|
3: Menunjukkan ekspresi kekaguman terhadap
materi pelajaran terkait dengan ungkapan verbal yang menunjukkan rasa syukur
terhadap Tuhan
2: Belum secara eksplisit menunjukkan ekspresi
kekaguman atau ungkapan syukur, namun menaruh minat terhadap keseluruhan
kegiatan belajar mengajar.
1: Belum menunjukkan ekspresi kekaguman, atau
menaruh minat terhadap belum menunjukkan kekaguman terhadap keseluruhan
kegiatan belajar mengajar dengan verbal yang menunjukkan rasa syukur terhadap
Tuhan
|
|
2
|
Menunjukkan rasa ingin tahu (curiosity)
|
3: Menunjukkan rasa ingin tahu yang besar,
antusias, terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
2: Menunjukkan rasa ingin tahu, namun tidak
terlalu antusias, dan baru terlibat aktif ketika diminta atau disuruh.
1: Tidak menunjukkan antusias dalam
pengamatan, sulit terlibat aktif dalam kegiatan kelompok walaupun telah
didorong untuk terlibat.
|
|
3
|
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan
bekerja baik secara individu maupun berkelompok
|
3: Tekun dalam menyelesaikan tugas dengan
hasil terbaik yang bisa dilakukan, berupaya tepat waktu.
2: Berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan
tugas, namun belum menunjukkan upaya terbaiknya.
1: Tidak berupaya sungguh-sungguh dalam
menyelesaikan tugas, dan tugasnya tidak selesai
|
3. Tes Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban
yang paling tepat !
1.
Berita Arab menuliskan tentang
kerajaan Sriwijaya dengan sebutan ....
A.
Iabadiou
B.
Chrisye
C.
Argyre
D. Suwarnadwipa
E. Sribuza
2.
Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa
Sriwijaya merupakan negeri Sarwajala adalah sebagai berikut, kecuali ....
A.
mendirikan asrama di Nalanda
B.
berhasil menduduki Tanah Genting Kra
C.
menguasai perairan Selat Malaka
D.
membangun Candi di Muara Takus
E.
memiliki armada laut yang kuat
3.
Keunikan prasasti-prasasti dari
kerajaan Sriwijaya adalah sebagian besar prasastinya ditulis dalam bahasa ....
A.
Sansekerta
B.
Melayu Kuno
C.
Jawa Kuno
D. Pranagari
E. Kawi
4.
Seorang raja yang melakukan
penyerangan terhadap Sriwijaya pada tahun 1025 adalah ....
A.
Dharmawangsa dari Kediri
B.
Kertanegara dari Singasari
C.
Hayam Wuruk dari Majapahit
D.
Rajendra Coladewa dari Colamandala
E.
Samaratungga dari Mataram
5.
Dapunta Hyang Sri Jayanegara
memerintah untuk membuat taman yang disebut Sri Ksetra. Hal ini tertulis dalam
sebuah prasasti dari Palembang, yaitu ....
A.
Prasasti Kedukan Bukit
B.
Prasasti Talang Tuo
C.
Prasasti Kota Kapur
D.
Prasasti Ligor
E.
Prasasti Telaga Batu
6.
Prasasti dari kerajaan Sriwijaya yang
menyebutkan tentang Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci (Siddhayatra)
dengan membawa 20.000 pasukan adalah ....
A.
Prasasti Talang Tuo
B.
Prasasti Kota Kapur
C.
Prasasti Telaga batu
D.
Prasasti Siddhayatra
E.
Prasasti Ligor
7.
Prasasti dari kerajaan Sriwijaya yang
dikeluarkan oleh Raja Dharmasetu di Semenanjung Malaka dan menyebutkan nama
seorang raja dari keluarga Syailendra adalah ....
A.
Prasasti Karang Birahi
B.
Prasasti Palas Pasemah
C.
Prasasti Kota Kapur
D.
Prasasti Telaga batu
E.
Prasasti Ligor
8.
Prasasti yang menceritakan tentang
upaya raja Balaputra Dewa dari kerajaan Sriwijaya membangun sebuah Wihara bagi
para mahasiswa dari Sriwijaya di India adalah ....
A.
Prasasti Ligor
B.
Prasasti Karang Birahi
C.
Prasasti Telaga Batu
D.
Prasasti Nalanda
E.
Prasasti Calcuta
9.
Seorang Musafir Cina yang mengadakan
perjalanan ke India, 671 M dan singgah di Sriwijaya adalah....
A.
I-Tsing
B.
Hwi-Ning
C.
Fa-Hien
D.
Meng-Chi
E.
Cheng-Ho
10.
Beberapa pendeta dari luar negeri
belajar agama di Sriwijaya, sebab di Sriwijaya ada seorang guru besar agama
Budha, yaitu ....
A.
Attisa
B.
Wajrabodhi
C.
Dapunta Hyang
D.
Dharmakirti
E.
Wirarajendra
11.
Seorang guru besar agama Budha di
Sriwijaya yang mengarang kitab berjudul Hastadandasastra adalah ....
A.
Wajrabodi
B.
Amoghawajra
C.
Sakyakirti
D.
Dharmakirti
E.
Atisa
12.
Sebuah candi Budha yang terdapat di
dekat Sungai Kampar, Riau dari kerajaan Sriwijaya adalah ....
A.
Candi Mendut
B.
Candi Muara Takus
C.
Candi Biaro Bahal
D.
Candi Plaosan
E.
Candi Gunung Tua
13.
Kemunduran dan keruntuhan Sriwijaya
disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut, kecuali ....
A.
berulangkali diserang oleh kerajaan Cola
dari India
B.
terjadi perebutan kekuasaan untuk
menduduki tahta kerajaan
C.
negara-negara taklukan Sriwijaya banyak
yang melepaskan diri
D.
terdesak oleh perkembang kerajaan
Singasari dari Jawa Timur
E.
serangan Majapahit
14. Berikut ini adalah empat putri Kertanegara
yang dinikahi oleh Raden Wijaya agar tidak ada pertentangan di kemudian hari, kecuali ….
A.
Tribhuwana
B.
Narendradhuhita
C.
Dyah Pitaloka
D.
Gayatri
E.
Prajna Paramita
15. Patung perwujudan Raden Wijaya sebagai
Siwa-Wisnu di candi Simping, Blitar, Jawa Timur disebut ....
A.
Agastya
B.
Kaiki
C.
Harihara
D.
Narasinghamurti
E.
Siwa Nataraja
16. Peristiwa “Bedander” merupakan sebuah
pemberontakan di dalam kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh ....
A.
Ranggalawe
B.
Nambi
C.
Sora
D.
Gajah Biru
E.
Kuti
17. Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah
Palapa pada masa pemerintahan .…
A.
Jayanegara
B.
Tribhuwanatunggadewi
C.
Hayam Wuruk
D.
Kusumawardhani
E.
Wikramawardhaiia
18. Tribhuwanatunggadewi memerintah Majapahit
atas nama ibunya yang memilih untuk hidup sebagai biksuni yaitu ....
A.
Tribhuwaneswari
B.
Narendra Dhuhita
C.
Prajna Paramita
D.
Dara Petak
E.
Gayatri
19. Puncak kejayaan Majapahit 1350 - 1389,
terjadi pada masa pemerintahan ….
A.
Raden Wijaya
B.
Jayanegara
C.
Tri Bhuwana Tunggadewi
D.
Rajasanegara
E.
Kertarajasa Jayawardhana
20. Kitab hukum yang disusun oleh Mahapatih Gajah
Mada pada masa pemerintahan Hayam Wuruk berjudul ....
A.
Kutaramanawa
B.
Harsha Wijaya
C.
Sonandaka
D.
Surya Alam
E.
Sutasoma
21. Peristiwa yang menyebabkan retaknya hubungan
antara Majapahit dan Pajajaran adalah ....
A.
Perang Ganter
B.
Perang Bubad
C.
Perang Paregreg
D.
Ekspedisi Pamalyu
E.
Pralaya
22. Karya sastra sejarah yang disusun oleh Pu
Prapanca pada masa pemerintahan Hayam Wuruk adalah....
A.
Arjunawiwaha
B.
Negarakertagama
C.
Sutasoma
D.
Mahabharata
E.
Smaradhahana
23. Kitab sejarah Majapahit karya Pu Prapanca
berjudul ....
A.
Sutasoma
B.
Pararaton
C.
Sonandaka
D.
Smaradhahana
E.
Negara Kertagama
24. Kitab Arjunawijaya berisi tentang riwayat
raja yang berhasil menaklukkan raksasa dikarang oleh ....
A.
Pu Tantular
B.
Pu Prapanca
C.
Pu Sedah
D. Pu Kanwa
E. Pu Panuluh
25. Pejabat tinggi yang mengurus masalah
keagamaan pada zaman Majapahit disebut ....
A.
Dewan Saptaprabu
B.
Sapta Upatti
C.
Dharmadyaksa
D.
Rakryan Mahamantri i sirikan
E.
Rakryan kanuruhan
26. Perang Paregreg pada mulanya terjadi antara
Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir, dengan putri Wikramawardhana/cucu Hayam
Wuruk bernama ....
A.
Kusumawardhani
B.
Paduka Sori
C.
Dyah Pitaloka
D.
Suhita
E.
Dara Jingga
27. Pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi
Ranawijaya berhasil menggempur penguasa Majapahit yang merupakan ayah Raden
Patah dari perkawinannya dengan putri Campa yaitu ....
A.
Kertawijaya
B.
Rajasawardhana
C.
Simhawikramawardhana
D.
Kertabhumi
E.
Purwadisesa
28. Berikut adalah prasasti-prasasti yang
dikeluarkan pada masa kerajaan Majapahit, kecuali ....
A.
Prasasti Gajah Mada
B.
Prasasti Brumbung
C.
Prasasti Jiu
D.
Prasasti Gunung Butak
E.
Prasasti Dinoyo
29. Berikut adalah candi-candi yang dibangun pada
kerajaan Majapahit di Jawa Timur, kecuali
...
A.
Candi Penataran
B.
Candi Surawana
C.
Candi Badut
D.
Candi Bajang Ratu
E.
Candi Jabung
30. Dalam Prasasti Brumbung, 1330 M, yang
dikeluarkan oleh Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani disebutkan nama lain
dari Majapahit, yaitu....
A.
Wilwatikta
B.
Mitrekasatata
C.
Medang Kahuripan
D.
Trowulan
E.
Medang Poh Pitu
31. Politik luar negeri Majapahit yang berprinsip
perlunya kerja sama dengan negara tetangga atas dasar persamaan derajat disebut
....
A.
Bhineka Tunggal lka
B.
Candra Wilwatikta
C.
Mitreka Satata
D.
Purusada Santa
E.
Ekspedisi Pamalayu
32. Kitab sastra yang mengisahkan peperangan
antara Gajah mada dengan raja Pajajaran, Baduga Maharaja, yang dikenal sebagai
peristiwa Pasundan Bubad, disebut ....
A.
Kidung Sonandaka
B.
Tantu panggelaran
C.
Carita Parahyangan
D.
Kidung Sundayana
E.
Babad Pasundan
34. Pada masa kerajaan Majapahit sudah terjalin
toleransi umat beragama. Kerukunan hidup beragama tersebut ditulis dengan
kalimat "Bhinneka Tunggal lka Tan hanna Dharma mangrua" kalimat
tersebt ditulis dalam kitab ....
A.
Negara Kertagama karya Mpu Prapanca
B.
Lubdaka karya Tan Akung
C.
Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu
Panuluh
D.
Arjunawijaya karya Mpu Tantular
E.
Sotasoma karya Mpu Tantular
4. Tes Uraian
Jawablah soal-soal di bawah
ini dengan benar !
1) Sebutkan
faktor-faktor pendorong berdirinya kerajaan Sriwijaya !
2) Sebutkan
bukti-bukti bahwa Sriwijaya menjadi pusat agama Budha!
3) Jelaskan
hubungan Sriwijaya dengan kerajaan Mataram Kuno berdasarkan Prasasti Ligor !
4) Mengapa
terjadi Pemberontakan Ranggalawe?
5) Tuliskan
isi "Sumpah Palapa"!
6) Apa
yang dimaksud dengan :
a. Pasukan
Bhayangkari
b. Madakaripura
7) Jelaskan
terjadinya peristiwa "Pasundan Bubad"!
8) Apa
yang dimaksud dengan Mitreka Satata?
9) Apa
yang dimaksud dengan isi kitab Sutasoma yang dikarang Pu Tantular yang berbunyi
“Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”.
10) Mengapa
terjadi Perang Paregreg?
Mengetahui, Surabaya,
15 Juli 2019
Kepala
SMA Negeri 22 Surabaya Guru
Mapel Sejarah
Untung Suharto, SH, S.Pd, M.Pd Aries Eka
Prasetya, S.Pd, M.Si
NIP.
19600328 198112 1 002 NIP.
19820409 200604 1 013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar